Minggu, 05 April 2009

Penulisan Puisi

PENULISAN PUISI

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penulisan puisi adalah:
1. Bunyi
Unsur bunyi dalam penulisan puisi sangat diutamakan karena akan menimbulkan keindahan. Hal-hal yang termasuk unsur bunyi adalah:
Asonansi dan Aliterasi
Perhatikan kutipan puisi berikut ini.
1. BERI AKU SEKEPING PUISI
beri aku sekeping puisi, kata-kata bersayap dari kelopak bunga
gerimis pada jiwa terbakar luas sabana. Tanah terbuka
menemu udara dari lembah utara

2. DINGIN KOTA
ada yang menggigil: lampu dan pepohonan
ada yang memanggil-manggil: kesunyian

3. RISIKO SUARA
berkata benar itu ibadah kerna lidah punya Allah
tetapi di negeri ini kebenaran ialah terali besi

Kutipan pertama disebut asonansi karena terdapat persamaan bunyi vokal a, sedangkan kutipan 2 dan 3 disebut aliterasi karena terdapat persamaan bunyi konsonan h dan l.

Rima Awal dan Rima Akhir
Perhatikan kutipan berikut ini.
APRIL
............................
Segelas susu dan roti bakar tentu bukan saja untuk
memulai kerna ini adalah tengah perjalanan yang tak
memungkinkan kamu berhenti
Masa depan adalah kepak merpati, duniamu sendiri,
memulas langit dengan kuas tenaga dan cinta

MONOLOG MATA
................................
inilah perjalanan harus kau layari
marilah tegakkan tiang-tiang kapal
seberangi samudera ini, di cakrawalanya kelak
akan kau singgahi pulau abadi

Pada kutipan 1 dijumpai persamaan bunyi di awal kata, yaitu bunyi me- pada kata memulai, memungkinkan, dan memulas. Persamaan bunyi tersebut dikenal dengan istilah rima awal. Pada kutipan 2 terdapat persamaan pada akhir kata yang dikenal dengan istilah rima akhir.

c. Persajakan Horisontal dan Vertikal
Perhatikan kutipan berikut ini.
1. SAJAK YANG LAHIR KARENA GONGGONGAN ANJING BETINA
(Malam hari. Ada bulan. Ada angin. Dan muncul kegelisahan)
Diam, diamlah, tutup mulutmu segera
Dan sekarang sudah tersedia sebotol minuman dari alkohol
Yang nomor wahid.

2. SAJAK ANAK SEBATANG KARA
Seraut wajah, dengan duka yang pantas, diam
di sudut menghadapi dinding

Seraut wajah, dengan sunyi yang cukup, mengambang
di permukaan tanah, menyusup tembok,

Seraut wajah, berjalan, dari dinding ke dinding
dingin.
...............................
Pada kutipan 1 terdapat persamaan bunyi (bahkan perulangan kata) ada dan diam dalam baris atau larik yang sama. Persamaan bunyi demikian dikenal dengan nama persajakan horisontal. Pada kutipan 2 terdapat persamaan bunyi (bahkan perulangan kata) pada baris atau larik yang berbeda. Hal tersebut disebut persajakan horisontal.
2. Diksi atau Pilihan Kata
a. Pengimajian
Di dalam puisi diperlukan kekonkretan gambaran, maka ide-ide abstrak yang tidak dapat ditangkap dengan alat-alat keindraan diberi gambaran atau dihadirkan seolah-olah dapat dapat dilihat, didengar, dicium, diraba, atau dipikirkan. Atas dasar hal itu dalam puisi dikenal citraan penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan/perasaan, pencecapan, dan gerakan.
Contoh: Gadis kecil berkaleng kecil (citraan penglihatan)
b. Kata konkret
Kata-kata : gadis kecil berkaleng kecil. Lukisan tersebut lebih konkret jika dibandingkan dengan kata-kata gadis peminta-minta. Untuk mengkonkretkan gambaran jiwa yang penuh dosa digunakan: aku hilang bentuk/remuk.
Dengan demikian, kata konkret adalah kata-kata yang digunakan penyair untuk menggambarkan suatu lukisan keadaan atau suasana batin dengan maksud untuk membangkitkan imaji pembaca.

3. Bahasa Puisi
a. Karakteristik Bahasa Puisi
Perhatikan contoh-contoh berikut ini.
Selembar daun jatuh
Selembar daun gugur
Selembar daun luruh
Selembar daun melayang
Kata jatuh,gugur, luruh, melayang, memiliki makna yang tidak jauh berbeda. Kata-kata ini dapat Anda pilih bergantung kepada perasaan apa yang ingin Anda sampaikan. Kata jatuh memberi kesan perasaan sakit, kata gugur memberikan kesan berkorban bagi orang banyak. Kata luruh memberikan kesan lembut, dan kata melayang memberikan kesan mengalir pelan. Baris selembar daun jatuh dan selembar daun gugur mungkin memiliki makna yang sama, tetapi perasaan yang ditimbulkan berbeda.
Bahasa Figuratif
Dalam penulisan puisi agar terasa keindahannya biasanya menggunakan majas.
Perhatikan kutipan puisi berikut ini.
sedang rasa begini dekat
seperti langit dan warna biru
seperti menyeru
kekasih
Petikan puisi di atas menggunakan simile yaitu jenis bahasa figuratif yangmenyamakan sesuatu dengan hal lain yang sesungguhnya tidak sama. Sebagai sarana pembanding menggunakan kata sebagai, bak, seperti, umpama, laksana, dsb.

Matahari menyapaku selamat pagi majas personifikasi
Embun menyambutku dengan senyuman

Laksana api rinduku pada ibu majas simile/asosiasi
Membakar setiap waktu

Sekuntum melati disematkan di hati majas metafora
Ada api membakar duri-duri

Yang ia bawa cuma luka
Yang ia cecap cuma luka majas paralelisme
Yang ia catat cuma luka
Hidupnya luka

4. Tipografi
Perhatikan kutipan berikut ini.

DI

DI
Betul
kau pasti
sedang menghitung
berapa nasib lagi tinggal
sebelum fajar terakhir kau tutup
tanpa kau tahu siapa kau dan
di
kau
maka kini
lengkaplah sudah
perhitungan di luar akal
dan angan-angan di dalam hati kita
tentang sesuatu yang tidak bisa siapa pun
menerangkatakan pada saat itu kau mungkin sedang
di
betul
kan
?

Kutipan puisi di atas menunjukkan keunikan puisi mutakhir yang dipelopori oleh Sutardji Calzoum Bachri. Baris-baris puisi tidak diawali dari tepi kiri dan berakhir di tepi kanan. Tepi sebelah kiri maupun kanan sebuah baris puisi tidak harus
Dipenuhi oleh tulisan, tidak seperti halnya menulis prosa. Selain awal baris tidak selalu harus dimulai dengan huruf kapital.

5. Sarana Retorika
Setiap penyair mempunyai gaya yang berbeda dalam membuat puisi. Hal tersebut amat bergantung pada konsep estetika yang diperjuangkan oleh penyair, aliran yang dipilih, dan faktor kepribadian penyair. Ada penyair yang menggunakan bahasa terbuka dan apa adanya, ada pula yang menggunakan kata-kata yang indah dan bersayap sehingga mampu membangun citraan yang lembut dan mendayu.
Dalam puisi gaya itu akan terlihat pada (1) pilihan leksikal, (2) penyusunan frase dan kalimat, (3) pengolahan majas (4) penggarapan unsur intrinsik puisi: baris dan bait, tipografi, enjambemen serta irama, (5) pemilihan dan pengungkapan pokok persoalan.

6. Teknik Penulisan Puisi
a. Bahan Puisi
Banyak kejadian yang bisa kita tulis menjadi puisi. Hanya saja dituntut kepekaan untuk dapat menangkap kejadian atau hal mana yang bisa dikembangkan jadi puisi.
Darimana menulis puisi ? Tentu saja dari bahan. Bahan puisi adalah realitas kehidupan dan kehidupan Anda sehari-hari. Apabila kita menulis puisi dari tema langkah pertama yang harus dilakukan adalah menghidupkan tema yang abstrak (misal penderitaan) ke dalam sebuah latar peristiwa atau hal-hal tertentu (contoh : lelaki tua di traffic-light), dan terakhir menjabarkannya dalam puisi.
b. Bentuk Ekspresi
Bentuk ekspresi menyangkut ciri visual puisi dalam arti menata hurufnya secara grafis. Puisi secara visual dibentuk oleh larik dan bait. Satu bait mengandung satu pokok pikiran. Selain persoalan larik dan bait bentuk puisi dapat pula memperhatikan enjabeman ( pemenggalan kata] dan tipografinya.
d. Pengembangan Bahan
Puisi sebenarnya bukan hanya ungkapan perasaan si penyair, tetapi juga
Pemikirannya. Akibatnya penyair bukan sekedar melukiskan apa-apa yang ia amati atau ia rasakan , tetapi juga memberikan penilaian, kritik, pemikian dan sebagainya terhadap apa yang menyentuh kesadaran estetik dan kritisnya.


Sumber: Materi Pelatihan Terintegrasi Bahasa Indonesia

Sabtu, 04 April 2009

Dahsyatnya Istighfar

Istighfar Menyuburkan Kandungan

Inilah berita gembira bagi setiap orang yang mendambakan momongan yang soleh dan sholehah. Ternyata istighfar merupakan salah satu cara untuk memperoleh keturunan, karena menurut buku "Dahsyatnya Terapi Istigfar" , istighfar dapat menyuburkan kandungan.
Dalilnya adalah firman Allah:
Maka aku katakan kepada mereka, ”Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (Nuh [71]: 10-12)

Kandungan dari ayat tersebut secara terperinci adalah sbb:
Mendapat ampunan dosa-dosa
Turunnya hujan dan dikeluarkannya rezeki
Allah menganugrahkan lebih banyak harta dan anak
Allah menjadikan kebun-kebun dan taman-taman


Ibnu Katsir mengatakan, Allah akan memberi kalian harta dan anak-anak. Dalam sebuah hadist disebutkan, ”Dan Allah akan memberinya rezeki dari
Jalan yang tidak disangka-sangka.”
Semua rezeki datangnya dari Allah.
Mudah-mudahan bermanfaat.

Syafaat anak bagi orang tua

Diriwayatkan oleh Abu Hasaan yang telah menceritakan bahwa ia pernah berkata kepada Abu Hurairah, "Sesunggguhnya dua orang anakku telah meninggal dunia. Sudilah kiranya engkau menceritakan kepadaku Hadist dari Rasulullah yang dapat menghibur hatiku karena kehilangan anakkku itu?" Abu Hurairah menjawab: "Baiklah, anak-anak kaum muslim akan menjadi penghuni kecil di dalam surga. Seseorang di antara mereka akan menjemput ayahnya atau kedua orang tuanya, lalu menarik bajunya atau tangannya sebagaimana aku menarik ujung bajumu ini, dan tiada hentinya atau tidak mau berhenti sebelu Allah memasukkan kedua orang tuanya bersama dia ke dalam surga". (Tahapan Mendidik Anak Teladan Rasulllah)
Subhanallah.... itulah ganjaran bagi orang tua yang bersabar atas kematian anaknya.